Selasa, 02 Juni 2009

E-Business Driving Forces

Jika dikaji secara sungguh-sungguh, perkembangan dari implementasi konsep e-business di sebuah industri atau negara sangat ditentukan oleh desakan faktor dari luar (external driving forces). Paling tidak ada empat faktor desakan yang saling berkonvergensi satu dengan lainnya yang secara signifikan akan menentukan percepatan implementasi konsep e-business, yaitu masing-masing: customer expectations, competitive imperatives, deregulation, dan technology.
Customer Expectations

Paradigma baru menekankan pentingnya pelanggan ditempatkan sebagai titik awal atau acuan dari penyusunan konsep bisnis sebuah perusahaan. Dewasa ini seorang pelanggan tidak cukup dapat dipuaskan dengan baiknya kualitas sebuah produk yang ditawarkan. Yang bersangkutan mengharapkan adanya pelayanan pra dan pasca jual yang baik. Spektrum pelayanan (services) yang dimaksud di sini sangat luas, seperti misalnya:

* Pelayanan pemesanan produk yang dapat dilaksanakan kapan saja dan dari mana saja (anytime, anywhere);
* Pembayaran pembelian produk dengan metode yang beragam, seperti melalui penggunaan kartu kredit, kartu debit, transfer antar rekening, dan lain-lain;
* Pemberian fasilitas asuransi produk yang sangat fleksibel, dimana berbagai lembaga asuransi di dunia dapat berpartisipasi;
* Pengiriman produk ke rumah secepat mungkin, dengan pilihan durasi dan harga yang kompetitif;
* Dan lain sebagainya.

Dengan jenis dan karakteristik kebutuhan yang sedemikian rupa, jelas ebusiness merupakan solusi yang tepat. Karena selain sifatnya yang dapat menembus batas-batas ruang dan waktu (spece and time), konsep bisnis digital memungkinkan pula diciptakannya jenis-jenis pelayanan baru yang dapat meningkatkan value kepada pelanggan.

Competitive Imperatives

Globalisasi telah membentuk sebuah arena persaingan dunia usaha yang sangat ketat. Hampir semua perusahaan di dunia dapat melakukan kompetisi secara terbuka di lingkungan pasar bebas. Tentu saja hal ini menimbulkan dampak yang sangat besar bagi keberadaan sebuah perusahaan. Pelanggan akan dengan mudahnya membanding-bandingkan kualitas produk dan pelayanan antar perusahaan dari hari ke hari. Dengan prinsip selalu mencari yang “cheaper, better, and faster”, maka secara tidak langsung perusahaan dipaksa untuk menyusun dan mengembangkan sebuah model dan strategi bisnis yang tepat. Lingkungan kompetisi yang sedemikan rupa mengharuskan perusahaan untuk menjalankan berbagai strategi baru sebagai berikut:

* Memfokuskan diri pada bisnis inti dan kemampuan khususnya (core business and core competencies) dan mengalihdayakan (outsourcing) berbagai proses yang bukan merupakan spesialisasinya ke perusahaan lain;
* Melakukan berbagai kerja sama dengan mitra-mitra bisnis yang ada untuk membentuk konsorsium penghasil produk dan/atau jasa baru (collaboration to compete);
* Memanfaatkan aset-aset non fisik (digital) sebagai pengganti sumber daya fisik yang dipergunakan untuk menciptakan produk atau jasa;
* Merubah model bisnis konvensional dengan model bisnis baru yang berbasis website dan internet;
* Dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, perusahaan konvensional akan melakukan restrukturisasi usaha agar dapat bertahan di dunia persaingan. E-business dalam konteks ini menawarkan beragam model bisnis baru yang dapat dipilih oleh perusahaan sebagai skenario bisnis barunya, seperti misalnya model bisnis: auction, portal, customer relationship management, e-procurement, infomediary, supply chain management, reverse auction, dan lain-lain.

Deregulation

Harus diakui pula bahwa secara makro deregulasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun negara-negara lain (disamping keberadaan lembaga-lembaga dan komunitas dunia semacam WTO, APEC, AFTA, dan lain-lain) telah turut mewarnai bentuk dunia usaha di masa mendatang, terutama yang berkaitan dengan konsep perdagangan bebas antar negara dan industri. Ditiadakannya pajak masuk produk-produk import, dibebaskannya kuota eksport produk, disatukannya berbagai mata uang asing (single currency), dialirkannya informasi secara bebas, tentu saja telah memaksa lingkungan dunia usaha menjadi lebih efisien dari masa ke masa. Internet di sini dianggap sebagai sebuah arena dimana konsep kompetisi sempurna (perfect competition) dan pasar terbuka telah terjadi, terutama yang berkaitan dengan produk-produk dan jasa-jasa yang telah dapat didigitalisasi. Dengan menunggang pada backbone medium ini diharapkan perdagangan dunia antara negara maupun perusahaan akan mengarah pada implementasi spektrum e-business dan e-commerce. Secara alami perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan ini akan perlahan-lahan bangkrut dan tersingkir dari dunia usaha.

Technology

Faktor terahir dan menentukan dalam mengimplementasikan konsep ebusiness adalah kemajuan teknologi informasi, yang didominasi oleh percepatan perkembangan teknologi komputer dan telekomunikasi. Fungsi dari teknologi informasi tidak hanya kritikal bagi perkembangan e-business (enabling function) tetapi justru telah menjadi penggerak dari dimungkinannya dikembangkan model-model bisnis baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Jika dahulu proses digitalisasi entiti fisik hanya berkembang pada asset semacam dokumen, saat ini telah berkembang ke arah media yang lain, seperti gambar dua dimensi, suara, dan video. Riset-riset yang berkembang di negara maju telah pula mempersiapkan kemungkinan didigitalisasikannya entiti-entiti lain seperti DNA (sel pembawa sifat keturunan) dan intelegensia. Jenis-jenis interaksi antar manusia pun oleh teknologi berhasil didigitalisasikan, seperti misalnya dalam proses komunikiasi, kolaborasi, kooperasi, kompetisi, dan lain sebagainya.

Beberapa pakar teknologi pun telah memperkirakan akan adanya revolusi sosial karena berkonvergensinya teknologi informasi dengan ilmu-ilmu lain seperti biologi,
kimia, fisika, dan matematika. Tidak heran jika nanti akan muncul model e49 business dimana fungsi seorang staf telah dapat digantikan oleh robot hasil kloning, atau fungsi seorang manajer telah digantikan oleh robot pintar berbasis kecerdasan buatan, atau produk-produk fisik telah dapat digantikan oleh produk-produk imitasi yang diciptakan secara instan, dan lain sebagainya. Teknologi informasi jugalah yang telah mematikan dan menimbun batas-batas geografis dan waktu sehingga setiap individu dapat berinteraksi dengan individu lain dalam hitungan detik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar